
Oleh: Ki Damar*
Karena terlalu lama bersama, banyak mata mulai mengawasi Sengkuni dan Purucona. Hal ini tidak baik bagi mereka, terutama bagi orang-orang yang mencurigai Sengkuni, seperti Yama Widura. Kecurigaan itu membuat Widura merasa tidak nyaman, sehingga ia menyuruh Pandawa agar tetap waspada.
Namun, kewaspadaan Pandawa memudar. Di hadapan mereka tersaji berbagai makanan lezat dengan aroma yang menggugah selera, membuat perut keroncongan.
“Wah, makanan ini… apakah boleh aku habiskan semua, Kakang Kurupati?” tanya Bima.
“Adikku Bima, jangan sungkan. Makan saja semuanya. Makanan ini memang untuk kalian. Pada dasarnya, kami para Kurawa tidak begitu suka makan. Kami justru diperintahkan untuk menyajikan semua ini kepada kalian,” ucap Kurupati.
“Adikku Bima, makanlah, tetapi jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.”
“Aku mengerti, Kakang Puntadewa.”
Dalam sekejap, makanan di meja hidangan hampir habis, membuat Sengkuni takjub.
“Wah, gila juga si Bima ini. Makanan sebanyak ini dimakannya dengan cepat. Dasar tak bisa menahan diri melihat makanan enak. Namun, ini pertanda keberhasilan. Sebentar lagi mereka akan pingsan dan tak berdaya,” gumam Sengkuni dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Pandawa tergeletak. Purucona pun dipanggil.

