Oleh: Ki Damar*
DI antara para anak Semar, Bagong merupakan yang terakhir alias bungsu.
Bagong sesungguhnya merupakan bagian dari Semar itu sendiri.
Suatu hari, Semar ditanya oleh ayahnya, Hyang Tunggal.
"Siapakah teman sejati manusia?"
Semar menjawab, teman manusia adalah bayangan itu sendiri. Sebab, bayangan tak pernah lepas dari manusia.
Mendengar jawaban itu, akhirnya Hyang Tunggal menganugerahkan seorang teman dari bayangan Semar, yang diberi nama Bagong.
Hyang Tunggal melanjutkan pesannya kepada Semar.
Bila bayangan benar adalah teman yang sejati, pasti kelak ia juga akan mengkritik dan menghantui.
Pun, sedekat apapun seseorang dengan bayangannya, ketika gelap si bayangan juga pasti akan menghilang.
"Iya, Rama Pukulun, meskipun dia meninggalkanku tapi dia akan datang ketika cahaya itu muncul, dan cahaya itu bukan hanya cahaya surya atau matahari, wahai ayah," jawabnya.
"Bahkan ia akan datang ketika cahaya hati manusia terpancar karena keluhuran dari manusia tersebut," sambung Semar.
Hyang Tunggal tersenyum mendengar jawaban Semar.
"Didiklah Bagong, anakmu. Sesungguhnya, ia anakmu yang paling sulit diatur layaknya manusia menahan nafsunya," pesan Hyang Tunggal.
"Jangan sampai manusia menjadi budak syahwatnya," imbuh sang ayah, kepada anaknya.
Karena itulah karakter Bagong selalu bertolak belakang dengan Semar.
Bahkan tak jarang Bagong bercanda atau membantah sang ayah. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani