Oleh: Ki Damar*
NARADA masih mengamati Narayana dari kejauhan. Sang titisan Wisnu menyamar jadi pandita lumpuh di tengah hutan.
Tak lama kemudian, datanglah Permadi dan Punakawan.
Mereka heran melihat pandita lumpuh. Di tengah-tengah hutan dan sendirian.
"Apa yang engkau lakukan dan siapa engkau? Bisakah aku bantu?" Permadi bertanya kepada sang titisan Wisnu.
"Saya adalah pandita Leladi Mangsa. Saya mau bertanya kepada paduka raden. Bila paduka bisa menjawab petanyaan saya, maka lumpuh saya ini sembuh, raden," kata sang pandita.
"Apa yang ingin engkau tanyakan, panembahan?"
Leladi Mangsa bertanya, "bila manusia itu salah, apakah ia berhak mendapat hukuman raden?"
Permadi berusaha menjawab dengan hati-hati.
"Semua manusia ketika salah pasti ada balasannya. Tapi meskipun Tuhan adalah dzat yang pengasih dan pemaaf, maka ketika dia bertobat pastilah dosanya akan diampuni," jawab Permadi.
"Tapi sayang, manusia kadang mendahului hukum dan sering menilai buruk pada sesamanya," sambungnya.
"Lalu, apakah saya ini lumpuh karena kesalahan saya?"
Permadi mulai curiga.
"Engkau lumpuh karena kesalahanmu sendiri yang ingin mencoba kesaktian orang lain, karena sesungguhnya engkau adala satria yang tidak lumpuh. Bukan begitu, Narayana?"
Pandita langsung berubah wujud menjadi Narayana dan memeluk Permadi.
Lelah melihat prank Narayana yang gagal kepada Permadi, Narada akhirnya turun dengan tertawa.
Dia mengatakan bahwa keduanya adalah satria yang pas untuk mengalahkan Raja Dwaraka.
Sebab, Narayana dan Permadi sama-sama titisan Hyang Wisnu.
Mendengar dewa membutuhkan bantuan, narayana dengan senang hati menolong bersama Permadi. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani