Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Salya Gugur (3) - Tamu yang Tak Diharapkan

Ki Damar • Minggu, 21 April 2024 | 03:00 WIB

 

Ilustrasi cerpen Lakon Wayang (RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen Lakon Wayang (RADAR MADIUN)
 

SEMENTARA itu, Di sebuah tenda kecil tempat peristirahatan Pandawa, Kresna memanggil kedua adiknya, yaitu Nakula dan Sadewa.

Ia meminta adiknya menemui uwaknya, yaitu Prabu Salya.

Kresna menyuruh mereka untuk menghaturkan terima kasih. Selain itu, Kresna ingin Nakula dan Sadewa menyampaikan siap mati di tangan uwaknya.

Nakula dan Sadewa segera berangkat dengan menunggang kuda mereka.

Tak lama kemudian, mereka tiba di tempat peristirahatan uwaknya.

Suara pintu terdengar dengan lirih, lalu Salya membuka pintu dan terkejut karena malam-malam keponakannya datang dengan mata berkaca-kaca.

"Uwak Prabu, saya datang mengucapkan terima kasih karena selama ini turut membesarkan dan memberi kami uang sehingga kami dapat bertahan hidup," tuturnya.

"Aku akan sampaikan pada ibu bahwa Uwak Prabu sangat sayang pada kami. Maka hari ini aku ingin mati di tangan Uwak Prabu," sambungnya.

Salya menangis.

"Kenapa kamu bilang begitu?"

"Uwak Prabu, mau bagaimanapun Pandawa dan Ibu Kunti juga merawat dan membesarkan kita tanpa pamrih, dan menganggap kita sebagai anaknya sendiri tanpa dibeda-bedakan," jawabnya.

"Kami tahu bahwa besok Uwak Prabu akan menjadi senopati."

"Iya, benar. Lalu bagaimana?," Salya kembali bertanya.

"Dari pada Uwak Prabu membunuh kakakku Puntadewa, Werkudara ataupun Arjuna, maka bunuhlah kami dulu, Uwak," kata Nakula dan Sadewa.

"Mereka kakak yang mengajarkan arti kehidupan di tengah kesedihan, waktu aku kecil sudah ditinggal ayah dan ibuku, mereka yang mendidikku dan membesarkanku."

Salya menangis dan merangkul keponakannya. "Bunuhlah kami, Uwak." (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#kurawa #cerpen #Pandawa #Kresna #salya #Lakon #wayang