SALYA kemudian meminta keponakanya untuk menemui Puntadewa. Sebab, sang raja mempunyai darah putih sama halnya dengan mertuanya yaitu Begawan Bagaspati.
Darah putih di sini artinya mereka sabar, jujur dan bijaksana.
Nakula dan Sadewa bergegas lari menemui Puntadewa.
Mereka meminta sang kakak agar maju berperang menemui uwaknya yaitu Prabu Salya.
Puntadewa menolak berperang karena akan membuat dirinya kotor dan menanam kebencian dalam hatinya.
Kresna menuturkan bahwa Salya tidak akan mati bila tidak dibunuh dengan seseorang yang berdarah putih.
Puntadewa dilanda dilema.
Bila ia maju perang, berarti ia menanam keburukan. Selama ini, Puntadewa adalah ksatria yang tak pernah perang atau menyakiti orang lain.
Namun bila ia tidak maju perang, Pandawa dalam bahaya.
Akhirnya, Puntadewa maju dengan membawa jimat Kalimasada.
Salya sangat senang karena Puntadewa akhirnya mau maju perang.
"Sangat beruntung diriku bila harus mati di tangan orang suci. Bunuhlah aku, dan aku hanya akan pasrah di tanganmu," tuturnya.
Puntadewa menaruh jimat Kalimasada di atas kepala Prabu Salya.
Hanya dengan itu, Salya merasa lemas dan akhirnya tewas di tangan Puntadewa.
Tangis Puntadewa pecah. Bukan karena ia membunuh Salya, tapi ia menangis karena tangannya pernah membunuh seseorang, apalagi orang itu adalah pamannya sendiri. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani