BATARA CAKRA merupakan seorang cendekiawan yang teliti dan mempunyai sifat-sifat dewa.
Karena pengetahuan dan sifat-sifatnya itu Batara Cakra diberi tugas sebagai pujangga kahyangan.
Dia juga ditetapkan sebagai pendamping pribadi Sanghyang Manikmaya (ayahnya)
Bersama dengan Batara Ganesya atau Batara Gana, mereka sama-sama mempunyai tugas membina kesustraan dan ilmu pengetahuan.
Oleh Sang Hyang Manikmaya, Batara Cakra dipercaya memberikan anugerah dewa berupa pustaka kepada umat di Arcapada.
Misalnya seperti Pustakan Kalimasada kepada Prabu Puntadewa, Raja Amarta.
Juga Kitab Pustaka Jitapsara kepada Begawan Parasara dari pertapaan Retawu.
Batara Cakra juga dipercaya untuk memberikan anugerah dewa berupa surat antara lain seperti Kalimasada kepada Prabu Puntadewa dan Jitapsara kepada Bagawan Parasara.
Sang Hyang Cakra pula yang ditugaskan memberi wejangan kepada Brahmana Sutiksna, brahmana suci di Gunung Citrakuta/Kutarunggu mengenai ilmu ketatanegaraan dan doktrin kepemimpinan yang disebut Asthabrata.
Selama hidupnya Batara Cakra tetap mengabdikan diri kepada ayahnya.
Batara Cakra juga selalu mencatat segala pembicaraan dan perintah Batara Guru dan disimpan di dalam pembendaharaan kedewataan.
Batara Guru adalah tokoh dewa yang merupakan raja dewa-dewa dalam cerita wayang, anak Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Wirandi.
Menjadi raja di tiga buana (Mayapada, Madyapada, dan Arcapada) dan tokoh wayang Batara guru digambarkan mempunyai empat tangan, berwarna biru dan bercaling. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani