WISANGGENI segera berangkat menanyai para dewa.
Maklum, dia masih kecil mudah disuruh sesuatu hal, entah itu benar atau salah.
Batara Indra, Batara Penyarikan, Batara patuk, Batara Temboro dihajar Wisanggeni karena tidak dapat memberi tahu siapa ayahnya.
Lalu Semar mendekati Wisanggeni dan berkata, “Jangan dewa yang kecil-kecil, di atas sana ada dewa bertangan empat yang bernama Batara Guru. Tanya ke dia, kalau tidak tahu hajar sekalian''.
Wisanggeni menjawab dengan penuh semngat, “Siap, Mbah”.
Bertemulah Wisanggeni dengan Guru.
“Hai kamu dewa bertangan empat dan berjubah, apakah kamu tahu siapa bapakku?’’ Kamu dewa bertangan empat pasti dewa serakah,’’ kata Wisanggeni.
''Hong wilaheng sekaring bawana langgeng, memang kamu anak siapa? Kenapa malah bertanya pada saya?’' ujar Guru.
“Wah, dewa ditanya malah hong wilaheng, hajar saja!’’ kata Wisanggeni.
Guru kuwalahan menghadapi remaja itu.
Pusaka yang ditakuti para dewa dan jin samapi dikeluarkan.
Tapi, tak dapat mengalahkan Wisanggeni.
Lalu Guru langsung menemui Semar.
“Kakang Semar, maafkan aku. Aku tahu bahwa ini adalah utusanmu. Aku tahu aku salah Kakang, aku minta maaf,’’ Guru merengek kepada Semar.
Lalu semar berkata, “Bawa ke sini ayah dan ibunya Wisanggeni,''.
Guru langsung menggunakan ajian menghadirkan Arjuna.
Pun, Dresanala yang disandera Dewasrani.
Batara Guru mengakui kesalahan kepada Arjuna dan Dresanala.
Sementara Brama, kelewat senang mengetahui hal tersebut.
Brama langsung menggendong Wisanggeni serta memeluk Arjuna dan Dresanala. (*/den)
Penulis alumnus ISI Surakarta