WAJAR bila Kunti sangat dilema. Mereka semua adalah darah dagingnya.
Pandawa dan Kurawa memang berperang secara fisik, namun Kunti setiap detik sedang berperang batin.
Dalam hati, Kunti berandai.
"Sebelum anak-anakku berperang dan melihat salah satu dari mereka mati, seharusnya aku dulu yang mati. Bagaimana aku bisa melihat sesama anakku berperang? Tuhan, kenapa engkau mempermainkan hati seorang ibu yang rapuh ini."
Tanpa terasa, fajar telah menyingsing.
Patih Tambakganggeng datang melapor bahwa Prabu Karna Basusena telah masuk ke medan perang dikusiri oleh Raja Mandaraka.
Arjuna dengan bersemangat datang membawa baju perang.
Kunti mendatangi Arjuna dan memakaikannya baju perang tersebut. Tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.
"Kenapa ibu menangis?," tanya Arjuna.
"Bagaimana aku tidak menangis, bila nanti sore aku harus melihat anakku kembali terbujur kaku. Entah kamu atau kakakmu, Basukarna. Aku sangat takut kehilangan kalian berdua," tuturnya.
Arjuna mencoba menenangkan sang ibunda.
"Ibu, ikhlaskan aku pergi, dan restuilah kami. Kita berperang dengan tujuan kita masing-masing. Jadi ibu akan bangga melihat anaknya berperang, meskipun kita berbeda pendapat namun kita sama-sama menegakkan keadilan," kata Arjuna.
Baca Juga: Sumbat Aliran Air di Dam Cokromenggalan, BPBD Ponorogo Bersihkan Bambrongan Bambu Sisa Banjir
"Apakah ibu tahu sesuatu?," sambungnya.
"Apakah itu, anakku?," tanya Kunti.
"Kakak Basukarna bukan ingin memusuhi Pandawa, karena dia sebagai kayu bakar yang akan membuat kobaran api supaya api itu menjadi besar," jelasnya.
"Artinya tanpa adanya kakang Basukarna, tidak mungkin terjadi perang Baratayudha. Dia rela maju perang supaya kurawa cepat musnah," lanjut Arjuna.
Kunti terdiam. Arjuna melanjutkan penjelasannya agar sang ibu lebih tenang.
"Karena angkara murka Kurawa tidak akan sirna bila tidak bersama raganya. Ia mengorbankan diri demi kejayaan kita," jelas Arjuna.
Tak ada kata terucap dari bibir Kunti. Ia hanya menangis sesenggukan sembari memeluk Arjuna dengan erat. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani