PERANG Baratayudha menggemuruh dengan separuh pasukan Astina telah sirna.
Pandawa pun baru saja kehilangan Abimanyu, yang dibunuh secara keji oleh para Kurawa dengan tubuhnya dipenuhi panah seperti landak.
Namun, Abimanyu adalah seorang satria yang tak pantang menyerah, yang menaruhkan nyawa demi para Pandawa.
Meskipun usianya masih muda, Abimanyu gugur di medan perang dengan terhormat dan berhasil menahan pasukan Kurawa.
Para senopati Astina mengakui kehebatan Abimanyu, sehingga seolah-olah Kurusetra berduka amat dalam.
Meskipun matahari belum tenggelam, kematian Abimanyu seperti mengisyaratkan tenggelamnya matahari.
Para senopati pun mundur dari perang Baratayudha untuk menghormati kematian sang kusuma bangsa.
"Paman Sengkuni, apa yang dilakukan prajurit Astina? Mengapa mereka mundur?" tanya Duryudana.
Sengkuni menjawab, "Aduh, anak Prabu, saya juga tidak tahu ada apa dengan mereka."
Duryudana lalu bertanya kepada Raja Ngawangga.
"Kenapa mundur? Siapa yang memerintahkan mundur dan menghentikan perang? Bahkan ini masih siang, matahari masih di atas kepala."
Basukarna menjawab dengan lugas.
"Yayi Prabu, meskipun begitu, lihatlah keteguhan dan perjuangan Abimanyu yang seperti matahari yang tanpa henti bersinar," ujarnya.
"Ketika dia mati di medan perang, itu seperti matahari yang telah tenggelam, membuat prajurit Astina iba dan mundur," sambung Basukarna. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani