"ADA apa istriku, Trirasa? Kenapa hatimu gelisah?" tanya Setyaki pada istrinya.
Trirasa menjelaskan bahwa dia ingin selalu bersama Setyaki dan kembali hidup tenteram di masa tua mereka.
Setyaki kemudian menceritakan tentang kehidupan Raden Samba yang pernah tewas dibunuh oleh kakaknya, Sitija, dan kemudian dihidupkan kembali oleh Raja Dwarawati.
Namun, setelah hidup kembali, Samba malah tidak berubah dan menjadi semakin sombong. Kesombongannya sangat keterlaluan.
Suatu hari, dia bahkan membohongi Dewa Narada hingga Dewa tersebut merasa malu dan marah.
"Suatu saat bangsa Yadawa akan hancur gara-gara engkau, Samba," kata Batara Narada.
"Setelah kejadian itu, saya yang dituakan setelah para Pandawa muksa, kini harus menjadi saksi tumpasnya bangsaku, istriku," kata Setyaki.
Trirasa diliputi penuh pertanyaan.
"Apa dosa rakyat ini hingga setiap sore dan malam terlihat menakutkan? Batara Kala seolah selalu berkeliaran di bangsa Wresni dan Yadawa," tanya Trirasa.
"Maka dari itu, aku akan mendatangi anakku, Samba, di Paranggaruda, dan berbicara baik-baik," kata Setyaki.
Setelah bertemu, Setyaki memberi saran agar gada yang dulu lahir dari Samba dibawa ke Lesanpura.
Kemudian mereka menghadap Prabu Setyajid di negara Lesanpura. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani