SUATU hari di negara Amarta, para raja dari seratus negara yang telah dipenjara oleh Prabu Jarasanda berhasil dibebaskan. Awalnya, raja-raja tersebut akan dijadikan persembahan kepada Batara Kala oleh Prabu Jarasanda.
Ketika Kresna, Bima, dan Arjuna memboyong raja-raja tersebut, mereka dihadang oleh Jayatsena, putra Prabu Jarasanda.
Kresna bertanya dengan penuh keheranan.
"Kenapa kamu menghalangi kami memboyong raja-raja yang dipenjara ayahmu? Apakah kamu akan membela kematian ayahmu?"
Jayatsena menjawab, "Bukan begitu, Sang Prabu. Justru saya berterima kasih karena angkara murka yang disandang ayah saya sudah sirna."
Kresna bertanya lagi, "Lalu apa yang kau syukuri? Bukankah itu ayahmu?"
Jayatsena berusaha menjelaskan maksudnya.
"Ketahuilah, Sang Prabu, ketika negara dipimpin oleh ayahku, rakyat memang makmur, namun kemakmuran itu diraih dengan cara yang tidak baik," ujarnya.
"Kepatuhan dan perjanjian terhadap Hyang Kala membuat rakyat sejahtera, tetapi itu adalah sejahtera yang jalan salah karena banyak korban yang harus ditaruhkan," lanjut Jayatsena.
Kresna mengangguk bijak.
"Hem, sangat bijak sekali. Kamu seperti melepas perjanjian antara Batara Kala dengan ayahmu. Namun ingat, setelah ini mungkin cobaanmu akan berat karena memuliakan negara dengan sungguh-sungguh bukan karena Batara Kala yang melindungi." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani