MERUJUK versi Wayang Purwa, semula tokoh wayang bernama Durna bernama Bambang Kumbayana, putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini.
Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani.
Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai.
Kumbayana lalu ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama.
Kuda tersebut dikutuk oleh dewa.
Kutukan itu akan berakhir apabila ada seorang satria mencintainya dengan tulus.
Karena merasa berutang budi, maka Kumbayana mencintai kuda betina itu sehingga mengandung, dan melahirkan seorang putra berwajah tampan yang kemudian diberi nama Aswatama.
Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar Prabu Drupada, Kumbayana tidak diakui sebagai saudara seperguruannya.
Kumbayana marah. Ia merasa dihina.
Ia lalu balik menghina Raja Drupada. Maka, Mahapatih Gandamana murka sehingga terjadilah perkelahian yang tidak seimbang.
Meskipun Kumbayana sakti, ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang memiliki kekuatan setara seribu gajah.
Kumbayana kalah sehingga tubuhnya cacat dan wajahnya rusak.
Namun dia tidak mati berkat ditolong oleh Sengkuni.
Akhirnya, Kumbayana diterima di Hastinapura dan dipercaya sebagai mahaguru ilmu perang anak-anak keluarga Barata dan dikenal sebagai Durna. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani