SEMAR mengingatkan Puntadewa untuk membuka Jamus Kalimasada, yang mengajarkan tentang pentingnya menjadi pemimpin yang peduli pada rakyat.
Pemimpin yang baik adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia dan senantiasa berdoa memohon perlindungan dari Tuhan agar terhindar dari bencana.
"Ketika kalian datang ke sini, kalian dipenuhi kecurigaan. Semoga kalian segera disadarkan. Di dalam ruangan ini, ada tamu yang tak diundang, masuk karena kecurigaan dan hati yang buruk. Jika dia tidak sadar, dia akan menjadi lalat selamanya," kata Semar.
Prabu Kresna segera meminta maaf.
"Maafkan kami, Kakang. Kami sebenarnya penasaran dengan apa yang ingin kau sampaikan kepada Pandawa."
Baladewa pun turut meminta maaf, takut jika doa Semar akan terkabul.
Mereka berdua menyadari kesalahan mereka.
"Kalian raja Dwarawati dan Mandura, datang dengan niat baik. Meskipun kalian berubah menjadi lalat, kalian tetap mendengar perkataanku," tutur Semar.
"Bangunlah hati kalian sebagai manusia yang baik, selalu meminta maaf kepada Tuhan atas segala perilaku kalian, karena kita tidak tahu mana tindakan yang tidak baik. Jadilah manusia yang baik, karena kebaikan akan menuntun kalian pada jalan yang benar," sambungnya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani