DI sebuah hutan, Batara Narada, penasehat para dewa, menerima mandat dari Batara Guru.
Sang penguasa kahyangan memintanya untuk memberikan panah Kunta Wijayandanu kepada Permadi (nama muda Arjuna).
"Kakang Narada, turunlah ke bumi dan berikan panah ini kepada Permadi yang sedang bertapa," kata Batara Guru.
Narada merasa penasaran dan bertanya.
"Pukulun, mengapa harus Permadi yang menerima panah Kunta Wijayandanu ini?"
"Panah ini akan digunakan oleh Permadi untuk memutuskan pusar jabang Tetuka, yang saat ini berada di Jodipati," jelas Batara Guru.
"Ketahuilah, kahyangan sedang dilanda kerusuhan akibat Prabu Kala Pracona. Menurut wangsit, hanya jabang Tetuka, putra Bima dan Arimbi, yang mampu mengalahkannya," sambungnya.
Dengan penuh pengertian, Narada menyadari bahwa turunnya pusaka dewa selalu memiliki tujuan besar.
"Pusaka ini memang harus digunakan untuk membawa ketenangan bagi kahyangan," ujar Batara Guru. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani