BISMA mencoba menenangkan.
“Cukup, cucuku. Pandawa mengembalikan kemenangan mereka kepadamu. Kumohon, kembalikan Amarta pada mereka dan sudahi permainan ini.”
Namun Duryudana menjawab tegas.
“Itu kesalahan Pandawa sendiri, Eyang. Rezeki datang, tapi ditolak. Ingat, sekarang Amarta milik kami.”
Puntadewa merasa bersalah kepada adik-adiknya dan Drupadi, istrinya tercinta.
“Kau tahu, Puntadewa? Termasuk di dalam Amarta, ada Drupadi. Karena Drupadi bagian dari Amarta, maka dia sekarang milik kami,” kata Duryudana.
Bima tak terima.
“Bagaimana bisa? Drupadi adalah istri kakakku!” jawabnya.
“Ini tidak bisa ditawar, Bima. Drupadi sekarang milik kami, seperti semua yang ada di Amarta!” tegas Duryudana.
Bisma kembali memperingatkan cucu-cucunya.
“Cucuku, jangan kotori Astina dengan nafsumu. Jangan sampai Astina hancur dan mendapat bala dari Tuhan.”
Baca Juga: Dituding Gunakan Feeder Pemkot, Ketua Tim Pemenangan Madiun Angkat Bicara
Duryudana hanya tertawa.
“Jangan bawa-bawa Tuhan dalam permainan judi ini, Eyang. Dan Bima, sekarang kau hanyalah manusia biasa. Drupadi sekarang harus melayani kami! Dursasana, bawa Drupadi ke sini!”
Dursasana pun menarik paksa Drupadi. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani