NAMUN, Batara Narada tidak menyerah.
Ia menggunakan ajian penggandan, sebuah ilmu untuk mencium keberadaan seseorang.
Setelah mengetahui lokasi Narayana, Narada segera berangkat menuju hutan tempat Narayana berada.
Di tengah hutan, Narayana tiba-tiba berhenti.
"Kakang Udawa, tetaplah di sini. Lihat, di sana ada adikku, Permadi. Aku akan menguji kewaspadaannya, apakah ia masih ingat padaku atau tidak."
Narayana kemudian mengubah wujudnya menjadi kakek tua yang lumpuh.
Permadi, yang sedang berjalan, melihat kakek itu dan bertanya, "Siapa engkau, Kisanak?"
Kakek itu menjawab, "Namaku Leladi Mangsa, Raden. Siapa engkau?"
Semar yang berada di samping Permadi bergumam.
"Leladi Mangsa? Namanya cocok sekali, sesuai keadaannya, hahaha."
Permadi memandangi kakek itu. Ia penasaran.
"Apakah benar kau tidak mengenalku, Kek? Aneh, ada kakek lumpuh di tengah hutan. Bukankah engkau sebenarnya kakakku, Narayana?"
Narayana, yang tak bisa menahan senyum, segera mengubah wujudnya kembali dan memeluk Permadi. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani