DI Amarta, Pandawa sedang merasa bingung dan cemas.
Petruk memberitahu bahwa Semar telah menghilang selama beberapa hari.
“Apakah kamu tidak bercanda, Petruk?” tanya Dewi Kunti khawatir. Raden Puntadewa menyuruh Petruk untuk mencari kembali di sekitar Karangkadempel.
“Aduh, Ndara, kami sudah mencarinya ke mana-mana. Gareng dan Bagong juga masih berusaha mencarinya,” kata Petruk sedih.
“Kalau sampai mati, mengenaskan sekali jasadnya tidak ditemukan.”
Mendengar perkataan Petruk, Bima segera marah.
“Jangan bicara seperti itu lagi! Orang tua adalah pembawa berkah, jangan sampai kau berani merendahkan!” seru Bima dengan tegas.
Petruk menundukkan kepala, merasa bersalah.
Tak lama, Patih Tambak Ganggeng datang menghadap Prabu Puntadewa.
“Sinuwun, di luar ada seorang pandita bernama Brahmana Sabda. Dia ingin bertemu dengan Pandawa dan Ratu Kunti dengan niat jahat!” lapor Tambak Ganggeng.
Mendengar ancaman ini, Bima langsung bersiap dan menemui pandita tersebut, diikuti saudara-saudaranya.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani