“WAH, Ibu Kunti, aku sangat senang sekaligus sedih,” kata Bima.
“Senang karena kata Eyang Abiyasa, adikku akan lahir hari ini. Tapi aku juga sedih karena Ibu terlihat khawatir. Apa yang membuat Ibu bersedih?” tanya Bima penuh perhatian.
“Anakku Bima, tenanglah. Ibu tidaklah sedih, air mata ini adalah air mata kebahagiaan,” jawab Dewi Kunti sambil tersenyum.
“Hmm, Ibu, meskipun aku masih kecil, aku tahu bedanya air mata bahagia dan air mata kesedihan,” kata Bima.
“Ibu, jika kau mau menceritakan yang sebenarnya, aku janji akan membuat Ibu bahagia,” desaknya.
Dewi Kunti tersenyum lembut pada putranya yang peka.
“Anakku Bima, kau anak yang penuh perhatian. Ibu merasa sedih bukan karena adikmu akan lahir, tetapi karena ayahmu tak kunjung kembali ke Astina,” ujarnya.
“Ibu khawatir akan keadaannya,” imbuh Dewi Kunti, mengusap rambut Bima penuh kasih.
“Kalau begitu, biar aku mencari Bapa Pandu, Bu, kalau sampai siang nanti belum juga pulang,” kata Bima, berusaha menghibur ibunya.
Kunti tersenyum mendengar ketegasan putranya itu.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani