TOKOH wayang Batara Yamadipati, yang merupakan putra Semar, dikenal dalam mitologi Jawa sebagai dewa yang memegang kunci neraka dan berkuasa mencabut nyawa manusia.
Menurut kepercayaan yang turun-temurun, kehadiran Hyang Yamadipati sering dikaitkan dengan tanda bahwa ajal seseorang sudah dekat.
Terutama jika orang tersebut sedang sakit dan menyaksikan kedatangannya.
Visual Wayang Yamadipati digambarkan dengan wajah raksasa yang mencerminkan keganasan dan kekuatannya sebagai dewa kematian.
Sosok ini juga dipersenjatai dengan rencong dan mengenakan pakaian tradisional dewa, menegaskan peran serta martabatnya dalam mitologi.
Mata Dewa Yamadipati yang plelengan—yang berarti jarang berkedip—menambahkan nuansa misterius dan menakutkan.
Sementara hidung manusiawinya menandakan kedekatannya dengan alam manusia, simbol dari tugasnya yang tak terelakkan untuk menghampiri mereka.
Meski dikisahkan memiliki istri bernama Dewi Mumpuni, hubungan mereka tidak selaras karena Dewi Mumpuni sendiri tidak menyukai Yamadipati.
Cerita-cerita yang melibatkan Batara Yamadipati sering kali mengeksplorasi tema kehidupan setelah mati, hukum karma, dan perjalanan roh manusia pasca-kematian.
Dalam dunia wayang kulit, sosok Yamadipati tidak hanya sebagai pembawa ajal, tetapi juga sebagai hakim adil yang menilai amal perbuatan manusia selama hidupnya.
Kehadiran Bathara Yamadipati dalam pertunjukan wayang seringkali menjadi sarana menyampaikan pesan moral dan spiritual.
Ia banyak mengajarkan tentang keadilan dan konsekuensi dari setiap tindakan di dunia fana.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani