DEWI Srikandi, putri kedua Prabu Drupada, raja negara Pancala, telah tumbuh dengan kecintaan yang mendalam terhadap olah keprajuritan, khususnya memanah.
Sejak kecil, ia telah mengasah keterampilannya dan kemudian berguru kepada Arjuna, yang tidak hanya menjadi mentornya dalam memanah tetapi juga suaminya.
Sebagai anggota kerajaan, Srikandi bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara beserta isinya.
Dalam epos Mahabharata versi Jogja, peran Srikandi mencapai puncaknya saat Bharatayuda.
Di perang besar itu, ia menjadi senopati perang Pandawa menggantikan Resi Seta dari Wirata yang gugur.
Dengan panah Hrusangkalinya, Srikandi berhasil membunuh Resi Bisma, senopati agung dari pasukan Kurawa.
Kisah pembunuhan Resi Bisma oleh Srikandi juga terkait dengan kutukan Dewi Amba, putri Prabu Darmahambara dari Giyantipura.
Dewi Amba memiliki dendam mendalam terhadap Bisma karena peristiwa yang menurunkan harga dirinya, dan Srikandi, melalui kutukan tersebut, ditakdirkan untuk membunuh Bisma.
Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan keberanian dan keterampilan Srikandi sebagai pemanah, tetapi juga perannya dalam menjalankan keadilan atas nama Dewi Amba.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani