Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tokoh Wayang Puntadewa Versi Jogja, Raja yang Berakhir Moksa

Ki Damar • Jumat, 6 Desember 2024 | 02:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa versi Jogja
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa versi Jogja

TOKOH wayang Puntadewa, atau sering juga dikenal dengan nama Yudhisthira di epik Mahabharata, adalah tokoh penting dalam pewayangan Jawa, khususnya dalam versi yang berkembang di Jogja.

Sebagai putra sulung Prabu Pandudewanata, raja negara Astina, Puntadewa memiliki tanggung jawab besar yang diemban sejak lahir.

Ia dilahirkan dari permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura, dan menjadi kakak bagi Bima atau Werkudara dan Arjuna.

Ia juga memiliki dua adik kembar lain ibu, Nakula atau Pinten dan Sahadewa atau Tansen, yang merupakan anak-anak Prabu Pandu dengan Dewi Madrim dari negara Mandaraka.

Puntadewa dikenal karena kepribadiannya yang adil dan bijaksana.

Ia menikah dengan Dewi Drupadi, putri Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala, dan dari pernikahan tersebut lahirlah Pancawala.

Puntadewa juga memiliki pusaka kerajaan yang sangat bernilai, yaitu payung Kyai Tunggulnaga dan tombak Kyai Karawelang, yang menandakan kebesaran dan kekuasaannya.

Selama perang Bharatayuda, Puntadewa memegang peran penting sebagai senapati perang Pandawa.

Ia berhasil menewaskan Prabu Salya, raja negara Mandaraka, dalam pertempuran yang sengit dan mematikan.

Kemenangannya ini tidak hanya menegaskan kekuatan dan keberanian Puntadewa, tetapi juga keadilannya dalam memimpin.

Setelah berakhirnya perang Baratayudha, Puntadewa naik tahta menjadi raja negara Astina dengan gelar Prabu Karimataya atau Kalimataya.

Baca Juga: Tokoh Wayang Subali Versi Jogja, Panah Gowawijaya Akhiri Hidupnya

Di bawah pemerintahannya, Astina menikmati masa perdamaian dan kemakmuran. Puntadewa juga memainkan peran penting dalam menobatkan Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari, sebagai raja Astina yang baru.

Keputusan ini mencerminkan visi Puntadewa untuk memastikan kelanjutan kepemimpinan yang adil dan bijaksana di Astina.

Masa pemerintahan Puntadewa berakhir dengan perjalanan moksa para Pandawa.

Perjalanan spiritual tersebut ia lakukan menuju pencapaian kebebasan dan kesempurnaan, yang juga diikuti oleh Dewi Drupadi.

(*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #Drupadi #jogja #Tokoh #wayang