MENURUT wayang Jogja, tokoh Anggisrana dikenal sebagai raksasa sakti yang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah wujudnya sesuai keinginan.
Sebagai anak buah sekaligus kekasih Sarpakenaka, adik dari Rahwana, Anggisrana memainkan peran penting dalam kisah Ramayana versi Jawa.
Suatu ketika, Anggisrana diperintahkan untuk menyusup dan menimbulkan kekacauan di markas Rama yang berada di Suwelagiri.
Dengan kelicikan dan kemampuannya, ia berhasil menyamar sebagai Kapi Srani, kera yang sebenarnya telah mati lama.
Keberhasilannya tidak bertahan lama karena ia akhirnya ditangkap oleh Gunawan Wibisana, yang curiga dengan keberadaannya.
Sugriwa, pemimpin kera, mencoba menguji Anggisrana dengan memintanya untuk mengeluarkan suara kera.
Namun, Anggisrana gagal dan malah mengeluarkan suara nglokor, suara khas yaksa atau raksasa, yang memperjelas identitas sebenarnya.
Kesalahan ini membuatnya terbongkar dan ia pun dibawa ke hadapan Prabu Rama.
Di hadapan Rama, nasib Anggisrana mengambil arah yang tidak terduga. Alih-alih dihukum, Anggisrana malah diberi hadiah oleh Prabu Rama dan disuruh kembali ke Alengka.
Keputusan Rama ini, yang tampak sebagai penghinaan, membuat Rahwana sangat marah karena dianggap menyepelekan.
Kembalinya Anggisrana ke Alengka dengan rasa bangga karena hadiah dari Rama tidak berakhir baik.
Rahwana, yang merasa diremehkan melalui tindakan Rama yang memberi hadiah kepada seorang pengkhianat, langsung membunuh Anggisrana.
Kisah tragis Anggisrana ini terangkum dalam lakon "Rama Tambak", di mana Prabu Rama berencana menyerang Alengka untuk membawa pulang Dewi Sinta.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani