SEMENTARA itu, Prabu Matsapati, raja Wirata, mengumumkan kepada Abimanyu.
"Karena besar jasamu, maka kamu akan aku nikahkan dengan Utari, dan kamu menjadi pangeran putra mahkota Wirata."
Abimanyu, meskipun senang menerima anugerah ini, masih teringat pada Siti Sundari yang ia titipkan di Pringgondani.
Pernikahan antara Abimanyu dan Utari dilangsungkan, dengan pesta yang meriah sehingga seluruh rakyat Wirata mengetahui pernikahan mereka.
Di sebuah taman, di mana mereka sedang berdua, Abimanyu memuji keindahan taman tersebut namun menyatakan bahwa Utari lebih indah dari taman itu.
Dewi Utari tersipu. "Laki-laki memang pandai merayu. Aku yakin banyak wanita yang mendekatimu."
Abimanyu berusaha meyakinkan Utari bahwa ia tidak memiliki wanita lain.
"Aku tidak percaya kau tidak mempunyai wanita lain. Kamu sungguh tampan dan pandai berperang dan merayu."
Dia mendekat dan mencium tangan istrinya, berjanji, "Jika aku berbohong, maka jika terjadi perang lagi, aku akan mati tertembus anak panah."
Tiba-tiba, petir menyambar sebuah pohon di taman Wirata, mengejutkan Utari.
Ia meminta Abimanyu untuk mencabut perkataannya, khawatir bahwa ucapan itu suatu hari akan menjadi kenyataan.
"Jangan katakan hal seperti itu lagi, cabutlah perkataanmu itu," kata Utari dengan perasaan resah.
Abimanyu menenangkan istrinya, "Tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Hanya kamu yang ada di hatiku."
Mereka tidak menyadari bahwa Kalabendana telah tiba, mendekati mereka dengan diam-diam, mengejutkan Abimanyu dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani