Jawa Pos Radar Madiun - Prabu Basukarna, juga dikenal dengan nama muda Raden Suryatmaja, adalah sosok yang berperan penting di negara Awangga dan memiliki sejarah kelahiran yang unik.
Sebagai putra Dewi Kunti dan Batara Surya, Basukarna memiliki nasib yang terpisah dari Pandawa, saudara-saudaranya melalui ibu yang sama.
Dikarenakan kekacauan di Mandura, tokoh wayang ini terbuang ke Sungai Gangga, dan kemudian ditemukan dan dibesarkan oleh Dewi Nadha dan kusir Adirata.
Baca Juga: Lakon Wayang Kalabendana Rubuh Bagian 1, Abimanyu Tak Kunjung Pulang
Keahliannya dalam berperang membuatnya mendapat tanah Awangga dari Kurupati (Duryodana).
Basukarna dikenal tidak hanya karena keberaniannya tapi juga karena kisah cintanya yang mendalam terhadap Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya.
Meskipun hubungan mereka pada awalnya ditentang oleh Prabu Salya, kesetiaan dan cinta Dewi Surtikanti membuat sang raja akhirnya menerima Basukarna sebagai menantu.
Kisah cinta mereka penuh dengan dedikasi dan pengorbanan.
Basukarna selalu menjaga kepercayaan Surtikanti dan tidak pernah menyakiti hatinya, menunjukkan cinta tulus yang tidak hanya diakui oleh Surtikanti tetapi juga oleh Prabu Salya.
Kesetiaan ini mencapai puncaknya dalam tragedi besar Baratayudha, dimana setelah gugurnya Basukarna, Surtikanti memilih untuk mengikuti suaminya dalam kematian, sebuah akhir yang menggambarkan pasangan sehidup semati.
Kisah Basukarna dan Surtikanti adalah pengingat akan kekuatan cinta dan kesetiaan yang mampu mengubah hati dan kepercayaan bahkan di antara konflik dan perang terbesar dalam sejarah Mahabharata.
Prabu Salya, meski awalnya ragu, akhirnya menyaksikan sendiri bukti cinta tulus yang membuatnya menghargai Basukarna tidak hanya sebagai pejuang tetapi juga sebagai menantu yang sangat mencintai putrinya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani