SANG Raden Kertiwindu, anak dari Patih Harya Sengkuni dan Dewi Sekati, memang telah mewarisi sifat ayahnya yang penuh intrik dan kecenderungan mengadu domba.
Dikenal cerdik dalam merangkai kata, Kertiwindu memiliki kemampuan unik untuk membuat ucapan paling mengerikan terdengar menarik dan meyakinkan.
Setelah Parikesit naik tahta sebagai raja, Kertiwindu, yang tidak terima dengan kematian ayahnya oleh tangan Pandawa, memulai misi balas dendamnya.
Dengan sifat yang diwarisi dari ayahnya, tokoh wayang ini menghabiskan waktu dan upaya untuk mengadu domba anak-anak Pandawa.
Tujuannya, menciptakan perpecahan dan kekacauan di antara mereka.
Salah satu taktik yang ia gunakan adalah dengan menghasut Pancakusuma, yang hanya menjadi raja di Pancala dan bukan di Astina.
Kertiwindu berargumen bahwa Pancakusuma, sebagai keturunan Puntadewa yang merupakan anak pertama Pandawa, seharusnya mempunyai hak yang lebih besar atas tahta.
Di sini, ia terlihat jelas ingin menimbulkan perselisihan.
Sifat Raden Kertiwindu dalam menghasut dan menyebarkan benih-benih kebencian terhadap keturunan Kurawa memperlihatkan satu hal penting.
Dendam dan kebencian yang diajarkan dari generasi ke generasi hanya akan terus menghasilkan siklus kekerasan dan perpecahan. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani