RESI Bisma, tokoh yang legendaris dalam epik Mahabharata, memiliki masa hidup yang sangat panjang, sebuah takdir yang telah ditetapkan oleh dewata.
Bisma mewarisi Aji Swasshandamarana dari ayahnya, yang memungkinkan dia menjalani kehidupan yang luar biasa panjang di dunia ini.
Selama hidupnya, tokoh wayang ini menyaksikan dan menjadi bagian dari tujuh masa pemerintahan di Kerajaan Astina.
Mulai dari masa pemerintahan ayahnya, Prabu Sentanu, hingga pemerintahan Prabu Duryudana.
Ia sendiri bagian dari generasi keenam dari wangsa Kuru.
Bisma setia melaksanakan dharma untuk memelihara dan menjaga kehormatan wangsa yang didirikan oleh Prabu Kuru, raja ke-21 dari Astina dan keturunan ke-29 dari Bhatara Darma.
Prabu Kuru, yang membangun tanah Kurusetra sebagai tempat suci bagi keturunannya dan rakyat Astina, adalah simbol dari dedikasi Bisma kepada keadilan dan tugas kerajaan.
Meskipun dikenal sebagai ksatria yang tak terkalahkan, akhir hidup Bisma ditandai dengan kesediaannya untuk mengikhlaskan nyawanya selama Perang Baratayudha.
Bisma gugur di tangan Srikandi, seorang senopati putri, mengingatkannya pada Dewi Amba, wanita yang telah lama menunggunya di surga.
Kematian Bisma tidak hanya menandai akhir dari era tapi juga merupakan simbol dari pengorbanan demi dharma dan kebenaran.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani