SIAPA sangka, Petruk pernah menduduki takhta di Loji Tengara dengan gelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey), dengan raja asli wilayah itu berada di bawah kendalinya.
Punakawan, termasuk Petruk, dikenal memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga tak ada yang bisa menandinginya ketika mereka menunjukkan kekuatan mereka.
Saat sang tokoh wayang lucu tersebut mewisuda dirinya, semua raja dari negara bawahan yang ditaklukkannya hadir, termasuk dari Astina.
Namun, awalnya tiga kerajaan besar (Pandawa, Dwarawati, dan Mandura) belum mengirimkan perwakilan.
Setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan, Prabu Kresna dari Dwarawati memutuskan untuk menyerahkan urusan ini kepada Semar.
Semar kemudian mengutus Gareng dan Bagong sebagai perwakilan Dwarawati.
Sebuah peperangan sengit terjadi antara Prabu Welgeduwelbeh dengan Gareng dan Bagong. Pertempuran ini berlangsung lama tanpa ada pemenang.
Saat ketiganya mulai berkeringat, Gareng dan Bagong mengenali bau keringat saudara mereka, Petruk, dan yakin bahwa lawan mereka adalah Petruk.
Mereka berhenti bertarung dan malah mengajaknya bercanda serta berjoget dengan berbagai lagu dan tarian.
Sadar telah kembali ke habitatnya, Petruk yang sempat lupa diri karena memakai pakaian kerajaan, segera mengingat identitas aslinya dan lari meninggalkan Gareng dan Bagong.
Namun, ia dikejar dan akhirnya tertangkap. Gareng dan Bagong kemudian memeluk dan menggelitiknya hingga Petruk kembali ke wujud aslinya.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani