Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
JAYADRATA, atau dikenal juga sebagai Tirtanata, adalah putra Prabu Sempani (Satwani) dan Dewi Drata.
Ia mewarisi tahta ayahnya dan menjadi raja di Negara Banakeling atau Kerajaan Sindu.
Meskipun bukan bagian dari 100 Kurawa yang lahir dari rahim Dewi Gandari, Jayadrata selalu terlihat berada di antara mereka.
Hal ini disebabkan oleh pernikahannya dengan Dewi Dursilawati, adik bungsu para Kurawa.
Dengan menikahi satu-satunya putri Destarata dan Gandari, Jayadrata dianggap sebagai keluarga Kurawa, sehingga dihormati layaknya saudara kandung mereka.
Kehadirannya sebagai "Kurawa ke-Seratus" menjadikan Jayadrata sebagai salah satu pendukung utama Astina dalam Perang Baratayudha.
Bahkan, ia menjadi salah satu musuh paling dibenci oleh Pandawa, terutama Arjuna.
Dendam Arjuna terhadap Jayadrata bermula dari kematian tragis Abimanyu, putranya.
Jayadrata diketahui berperan besar dalam barisan Cakrabyuha, yang menjebak dan menghabisi nyawa Abimanyu secara brutal.
Karena hal ini, Arjuna bersumpah akan memenggal kepala Jayadrata sebelum matahari terbenam.
Ketika akhirnya Jayadrata tewas di tangan Arjuna, terjadi keanehan.
Kepala Jayadrata yang telah terpenggal tidak langsung jatuh.
Yang mengejutkan, kepala Jayadrata bergerak sendiri dan menyerang pasukan Pandawa, membuat kekacauan di medan perang.
Ternyata, hal ini terjadi karena ayah Jayadrata, Resi Sempani, telah memberikan doa dan restu agar anaknya tidak benar-benar mati.
Namun, Kresna mengetahui rahasia ini dan segera menyuruh Petruk untuk mengganggu doa Resi Sempani.
Saat Resi Sempani mengucapkan doa, Petruk menyusup dan mengubah kata-kata doa tersebut, sehingga yang seharusnya berbunyi "Jayadrata hidup" menjadi "Jayadrata mati".
Akhirnya, Jayadrata benar-benar tewas.
Dengan cara licik namun cerdik, Pandawa berhasil memastikan kematian salah satu musuh terbesar mereka di Perang Baratayudha.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani