Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Sempani Gugur Bagian 3, Duka Seorang Bapak di Tengah Medan Laga Baratayudha

Ki Damar • Selasa, 25 Februari 2025 | 01:45 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur
Ilustrasi lakon wayang Sempani Gugur

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

PASUKAN Kurawa diperintahkan mundur, membawa jasad Jayadrata dengan penuh duka.

Sementara itu, Arjuna berdiri tegap di medan Perang Baratayudha, memandangi langit dengan tatapan yang penuh kepuasan, tetapi juga menyimpan luka mendalam.

"Abimanyu, tenanglah kau di surga. Bapakmu telah membalaskan rasa sakitmu. Aku telah membuat pembunuhmu membayar dengan harga yang setimpal."

Suara Arjuna terdengar lirih, namun gemanya memenuhi medan perang yang mulai lengang.

Bima yang berdiri di samping Arjuna mengepalkan tinjunya, wajahnya menyiratkan amarah yang belum terpuaskan.

"Adikku Harjuna, ini belum tuntas! Kematian Abimanyu tidak akan bisa terbayarkan oleh siapapun. Bagiku, bahkan kematian seratus Kurawa pun tidak akan cukup untuk menggantikan nyawa Abimanyu!"

Bima menatap tajam ke arah mayat Jayadrata yang tergeletak tak bernyawa.

"Namun, aku berjanji satu hal untukmu. Aku akan memastikan keturunanmu kelak menjadi raja besar, mewarisi kebesaranmu dan Abimanyu."

Hari itu, pasukan Kurawa mundur lebih awal, bahkan sebelum matahari mulai condong ke barat.

Peristiwa yang terjadi di medan perang mengguncang hati seluruh pasukan, terutama bagi mereka yang menyaksikan sendiri kepala Jayadrata terpenggal dan menggelinding di tanah.

Di tempat lain, di sebuah pertapaan terpencil, Begawan Sempani, ayah Jayadrata, sedang bertapa. Tiba-tiba, ia merasakan getaran aneh dalam batinnya, firasat buruk menyergap hatinya.

Tanpa menunggu lama, ia berlari ke arah medan perang, menyusuri jalan setapak dengan napas memburu dan dada bergemuruh.

Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan pasukan Kurawa yang sedang membawa jasad putranya.

Dengan wajah penuh kegelisahan, ia menghentikan salah satu prajurit yang tampak kelelahan.

"Hei, prajurit! Kenapa kalian sudah mundur? Padahal hari belum juga petang!"

Prajurit itu menundukkan kepala, suaranya gemetar saat menjawab.

"Bagawan... Raja Sindu telah gugur. Prabu Duryudana memerintahkan kami mundur untuk segera merawat jasad Jayadrata."

Sejenak, dunia seakan berhenti bagi Begawan Sempani. Matanya membelalak, tubuhnya goyah seperti kehilangan kekuatan.

"Anakku... Tirtanata mati? Tidak mungkin! Aku harus ke Pesanggrahan Bulupitu!"

Dengan langkah tergesa, Begawan Sempani bergegas menuju perkemahan Kurawa, hatinya dipenuhi gelombang emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Kresna #Baratayudha #arjuna #Lakon #wayang