Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah kerasnya dunia persilatan (kangouw) yang penuh intrik, seorang perampok bertubuh tinggi besar berjuluk Sin-Hek-Houw (Macan Hitam Sakti) kembali menemui Sin Liong.
Pertemuan itu terjadi di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga).
Dengan langkah terseok-seok, ia mendatangi bocah ajaib yang kelak dikenal sebagai Bu Kek Siansu.
Baca Juga: WARTA JAWA | Wong Jawa Kudu Weruh! Mitos utawa Gugon Tuhon Sejatine Ngajarake Kabecikan, Iki Contone
Dengan tubuh terpincang-pincang akibat luka bacokan pedang beracun di pahanya, ia meminta pertolongan kepada Sin Liong yang telah menolongnya dua bulan sebelumnya.
Dia berada di ambang maut karena lengannya terkena racun.
Sin Liong, meski tak menyukai kaum pendekar yang gemar bertarung dan melukai sesamanya, tetap menunjukkan sikap belas kasih.
Tanpa menolak, ia merawat luka perampok itu dengan penuh ketulusan.
Dengan pengetahuannya tentang khasiat tanaman obat, ia mulai mengobati luka Sin-Hek-Houw.
Ia membuka luka yang mengering dan mengeluarkan darah beracun.
Setelah itu, ia menaburkan bubuk akar untuk menetralisir racun yang telah menyebar ke kaki perampok itu.
Perampok itu merintih kesakitan, namun tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap bocah kecil yang begitu matang dalam bersikap dan memiliki hati yang begitu jernih.
Namun, kedatangan Sin-Hek-Houw bukan sekadar untuk meminta pertolongan.
Ia membawa kabar yang dapat mengubah nasib Sin Liong.
Dunia persilatan tengah digemparkan oleh nama bocah itu.
Banyak tokoh dan partai besar mencarinya, berharap dapat merekrut atau mengangkatnya sebagai murid.
Namun, bukan hanya pendekar baik yang tertarik yang tertarik.
Ada pula tokoh sesat yang mengincarnya dengan maksud jahat.
Sin-Hek-Houw, yang kini merasakan kasih sayang sejati dari Sin Liong, menawarkan perlindungan dan mengajaknya untuk bersembunyi dari ancaman tersebut.
Namun, dengan keteguhan hatinya, Sin Liong menolak.
Baginya, ia telah menjadi bagian dari masyarakat di sekitar gunung Jeng-Hoa-San.
Ia tidak akan melarikan diri hanya karena ancaman, karena ia merasa tidak memiliki niat buruk terhadap siapa pun.
Setelah memperingatkan bocah itu, Sin-Hek-Houw pergi dengan kekhawatiran di hatinya.
Ia sadar, Sin Liong bukan anak biasa.
Bukan hanya karena kepandaiannya dalam mengobati, tetapi karena kemurnian hatinya yang luar biasa.
Dengan langkah tertatih, ia meninggalkan gua tempat Sin Liong tinggal.
Hari-hari berlalu, dan kabar tentang Sin Liong terus tersebar.
Ancaman semakin dekat, namun bocah itu tetap menjalani hidupnya dengan ketenangan.
Tanpa rasa takut, ia tetap melayani orang-orang yang datang meminta pertolongan.
Seolah dunia kangouw yang tengah bergolak tak mengganggu ketenteraman jiwanya. (fin)
Editor : Mizan Ahsani