Jawa Pos Radar Madiun – Dalam perjalanannya menuju Jeng-hoa-san (Gunung Seribu Bunga), Kiam-mo Cai-li dihadang oleh lima pendekar dari Gunung Ayam (Kee-san Ngo-hohan).
Para pendekar ini berusaha menggagalkan rencana jahat wanita berjuluk Wanita Pandai Berpayung Pedang, yang berniat menculik Sin Liong, nama kecil Bu Kek Siansu.
Pertempuran sengit pun tak terhindarkan—lima pendekar harus menghadapi satu sosok yang begitu berbahaya!
Kee-san Ngo-hohan Menghadang Kiam-mo Cai-li
Kiam-mo Cai-li memiliki satu tujuan utama dalam perjalanannya menuju Jeng-hoa-san.
Ia ingin mendapatkan Sin-tong, bocah ajaib yang menjadi incaran banyak tokoh dunia persilatan.
Namun, langkahnya terhenti ketika Kee-san Ngo-hohan menghadangnya.
Kelima pendekar itu bukan sekadar petarung biasa, melainkan murid utama dari Hoa-san-pai yang menjunjung tinggi kehormatan dan membalas budi.
Dengan penuh keyakinan, mereka berusaha membujuk Kiam-mo Cai-li agar mengurungkan niatnya menculik Sin-tong.
Namun, wanita itu justru mempermainkan mereka dengan sikap menggoda dan menantang.
Tak ada pilihan lain—pertarungan pun pecah!
Kekuatan dan Jurus Kee-san Ngo-hohan
Kelima pendekar ini dikenal sebagai ahli dalam permainan golok dengan teknik khas Hoa-san-pai, yaitu Hoa-san-to-hoat.
Selain itu, mereka juga menguasai ilmu totok Sam-ci-tiam-hoat, teknik yang memanfaatkan tiga jari tangan untuk melumpuhkan lawan.
Mereka percaya bahwa kombinasi serangan ini cukup untuk menghadapi Kiam-mo Cai-li.
Namun, keyakinan mereka mulai goyah saat menyaksikan kehebatan wanita sakti itu.
Senjata dan Jurus Mematikan Kiam-mo Cai-li
Sebagai pendekar wanita dari aliran sesat, Kiam-mo Cai-li memiliki teknik bertarung yang luar biasa.
Senjatanya adalah payung hitam yang terbuat dari baja kuat dengan kain kulit badak yang lemas, tetapi tahan tebasan.
Ujung payungnya runcing seperti pedang, sementara gagangnya dapat digunakan sebagai senjata kaitan.
Selain itu, rambut panjangnya menjadi senjata mematikan yang mampu menyerang seperti cambuk, membelit, dan menjerat senjata musuh.
Ia juga menguasai ilmu totok misterius yang dapat melumpuhkan lawan sepenuhnya, membuat mereka hanya mampu melihat dan mendengar tanpa bisa bergerak.
Racun yang disalurkan melalui kuku jari kelingkingnya membuat korban kehilangan kendali dan terbakar nafsu sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo Bagian 22, Menangis, Tertawa, dan Marah di Depan Mesin Ketik
Keahliannya yang paling mengerikan adalah teknik menghisap darah langsung dari leher lawan, membuat tubuh mereka kering seperti bangkai lalat dalam sarang laba-laba.
Akhir Tragis Kee-san Ngo-hohan
Pertarungan sengit berakhir dengan tragedi bagi Kee-san Ngo-hohan.
Satu per satu, mereka tumbang di tangan Kiam-mo Cai-li.
Wanita itu menaklukkan kelima pendekar dengan kombinasi serangan payung, rambut, dan ilmu totokannya.
Pendekar termuda menjadi korban pertama teknik hisap darahnya.
Sementara yang lain dibuat tak berdaya sebelum mengalami nasib serupa.
Kematian mereka begitu mengerikan.
Tubuh mereka kehabisan darah, kulit mengeriput, hingga menyerupai lima ekor lalat yang terjebak dalam sarang laba-laba.
Seperti bangkai yang telah dihisap habis sarinya, mayat mereka yang kering akhirnya dilemparkan begitu saja.
Setelah memastikan kelima pendekar itu mati mengenaskan, Kiam-mo Cai-li melanjutkan perjalanannya menuju Jeng-hoa-san.
Simak terus serial Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo untuk mengungkap kisah-kisah berikutnya! (fin)
Editor : Mizan Ahsani