Jawa Pos Radar Madiun – Kiam-mo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong akhirnya tiba di Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga).
Dua tokoh sesat itu datang dengan menebar teror kejam.
Masing-masing unjuk kesaktian dengan menyerang orang-orang dusun yang tengah mengantre berobat kepada Sin Liong, bocah ajaib yang kelak berjuluk Bu Kek Siansu itu.
Pagi yang seharusnya membawa harapan itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk.
Ketika dua sosok menyeramkan muncul di antara mereka.
Langkah kaki mereka begitu ringan, nyaris tak bersuara, namun hawa kehadiran mereka cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Kiam-mo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong, dua nama yang telah melang melintang di dunia persilatan.
Kiam-mo Cai-li, perempuan bersosok tinggi semampai dengan wajah cantik yang menyimpan kengerian, melangkah dengan anggun.
Di tangannya, payung hitam yang selalu menemaninya berputar perlahan, seperti siap menciptakan malapetaka kapan saja.
Dari arah berlawanan, Pat-jiu Kai-ong, Raja Pengemis Berlengan Delapan juga muncul dengan tongkat bututnya.
Lelaki tua itu menyeringai sinis sembari menghentakkan tongkat hitamnya ke tanah.
Seketika, getaran hebat menyebar, membuat debu dan kerikil beterbangan ke udara.
Sontak butiran kerikil melesat seperti anak panah tajam, menembus kepala beberapa warga yang berada di barisan depan.
Darah segar mengucur deras dari lubang kecil yang menganga di dahi mereka.
Tanpa sempat bersuara, tubuh mereka ambruk ke tanah, mata mereka masih terbelalak dalam kematian yang tiba-tiba.
Jeritan histeris pun pecah.
Warga yang masih hidup berusaha melarikan diri, namun belum sempat langkah mereka menjauh, sosok Kiam-mo Cai-li sudah bergerak.
Dengan gerakan lembut, ia mengangkat payung hitamnya dan mengarahkannya ke kerumunan.
Dalam sekejap, belasan jarum hitam melesat dari dalam payung itu.
Kecepatan dan akurasi serangannya begitu luar biasa hingga tak satu pun yang bisa menghindar.
Jarum-jarum itu menembus leher mereka yang malang, mencabut nyawa dalam hitungan detik.
Tanah yang semula hanya berdebu kini berubah merah oleh darah yang membasahinya.
Suasana hening seketika.
Yang tersisa hanyalah suara angin yang berhembus pelan, serta isakan tertahan dari beberapa orang yang masih hidup, menyaksikan kengerian yang baru saja terjadi.
Di tengah pemandangan mengerikan itu, Sin Liong berdiri diam.
Matanya basah oleh air mata. Ia menangis bukan karena ketakutan, melainkan karena amarah yang begitu besar membara dalam dadanya.
Kedua tangannya mengepal erat, tubuh kecilnya bergetar menahan gejolak yang ingin meledak.
Kiam-mo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong menatap bocah itu dengan penuh minat.
Mereka datang bukan hanya untuk menebar teror, tetapi untuk satu tujuan lain: Sin Liong.
Anak itu adalah kunci bagi ambisi mereka, dan tak satu pun dari mereka yang berniat berbagi.
Namun, di dunia persilatan, hanya ada satu hukum yang berlaku—yang terkuatlah yang akan menang.
Simak kelanjutan cuplikan kisah Bu Kek Siansu dalam Menelusuri Jejak Kho Ping Hoo di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani