Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
NAMUN, di tengah perjalanan, para Kurawa menghadang jalan. Mereka menuntut agar Semar dan anak-anaknya dibawa ke negara Astina.
Arjuna menolak permintaan itu. Terjadilah peperangan antara pasukan Astina dan Pandawa.
Pasukan Kurawa terdesak mundur dan akhirnya kembali ke negaranya.
Prabu Rama kecewa karena tak bisa membawa pulang Semar.
Namun, Sanghyang Tunggal melimpahkan kesejahteraan kepada rakyat Pancawati dan Ayodya sebagai bentuk penghargaan atas dharma yang telah dijalankan Prabu Rama.
Maka, Prabu Rama dan Laksmana pun kembali ke Ayodya.
Di Ayodya, Prabu Rama memerintah dengan bijaksana, sementara Laksmana diangkat menjadi patih kerajaan.
Prabu Rama bertahta hingga usia lanjut, kemudian memilih lengser keprabon.
Putra pertamanya, Lawa, diangkat menjadi raja Ayodya dengan gelar Prabu Rama Badlawa.
Sedangkan putra keduanya, Kusya, menggantikan kedudukan kakeknya, Prabu Janaka, sebagai raja Mantili dengan gelar Prabu Rama Kusya.
Setelah turun takhta, Prabu Rama bersama Laksmana menjalani tapa di Kurharunggu.
Di sana, Prabu Rama hidup sebagai Panembahan Rama, seorang brahmana yang bijaksana dan dihormati, baik oleh pejabat kerajaan maupun rakyat jelata.
Panembahan Rama mengajarkan Asta Brata, delapan laku utama seorang pemimpin yang menjadi warisan luhur bagi para raja selanjutnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani