Jawa Pos Radar Madiun – Telaga Utara berdiamter sekitar dua li (1 kilometer) dengan sebuah pulau di tengahnya yang terhubung oleh jembatan.
Di pulau itu berdiri sebuah gedung tempat An Lu Shan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh kangouw berilmu tinggi.
Telaga ini sulit dijangkau karena terletak di antara puncak gunung dan dikelilingi jurang curam.
Liu Bwee dan Ouw Sian Kok ragu melihat jurang curam selebar dua puluh lima meter di hadapannya.
Song Kiat lantas menjelaskan bahwa mereka telah menyelidiki dan kini telah mempersiapkan diri.
Cap-pwe Eng-hiong (Delapan belas pendekar sakti) Bu-tong-pai telah menyiapkan sebuah teknik berbahaya yang mereka sebut sebagai jembatan manusia.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 113, Liem Toan Ki Ajari Swi Nio Cara Merawat Dendam
Teknik Jembatan Manusia
1. Fondasi Kuat
Seorang pendekar bertubuh besar berdiri di tepi jurang dengan kuda-kuda kokoh.
Menggunakan tenaga dalam agar tubuhnya seolah berakar di tanah.
2. Penyusunan Formasi
Pendekar berikutnya melompat dan berdiri di atas pundaknya.
Formasi ini terus berlanjut hingga tujuh belas orang tersusun bertingkat.
3. Membentuk Diri Menjadi Jembatan
Setelah stabil, kaki setiap pendekar di atas merosot ke belakang pundak temannya di bawah.
Susunan tubuh mulai didorong ke depan hingga melintang di atas jurang.
Orang teratas menyambar akar pohon kuat di seberang sebagai pegangan.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 110, Tak Semudah Itu Menaklukkan Hati Yang Kui Hui
4. Cara Penyeberangan
Liu Bwee dan Ouw Sian Kok mengawali menyeberangi jembatan manusia dengan hati-hati.
Mereka mengerahkan keseimbangan dan tenaga dalam agar tidak menggoyahkan formasi.
Baca Juga: Mengupas Cerita Silat Kho Ping Hoo Bagian 109, Swi Liang Terseret Hubungan Semakin Dalam
5. Pembongkaran Formasi
Orang terbawah melompat ke jurang sambil tetap berpegangan pada kaki temannya di atas.
Mereka menciptakan rantai manusia yang menggantung di dinding jurang.
Satu per satu mulai merayap naik hingga seluruh tim berhasil menyeberang.
6. Koordinasi Sempurna, Salah Kecil Bisa Fatal
Teknik ini membutuhkan koordinasi sempurna dan keberanian tinggi.
Cap-pwe Eng-hiong melakukan latihan panjang sebelum melakukan aksi berbahaya ini.
Kesalahan kecil bisa berakibat fatal, namun metode ini terbukti efektif.
Liu Bwee dan Ouw Sian Kok kagum dengan teknik jembatan manusia dari Cap-pwe Eng-hiong ini.
Selanjutnya, para pendekar gagah ini bersiap menyatroni markas An Lu Shan.
Nantikan kelanjutan cuplikan cerita silat Bu Kek Siansu di Radar Madiun! (fin)
Editor : Mizan Ahsani