Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"KENAPA bisa begitu, Panembahan?"
"Sebelum aku membisikkan ajian itu, ada seseorang tinggal di telingamu. Ia yang pertama mendengar rapalan itu. Cahaya yang keluar tadi adalah dia," jawab Subali.
"Kurang ajar! Siapa dia?!"
"Kau tak bisa membunuhnya karena dia juga memiliki Aji Pancasonya. Suatu hari, carilah dia di Trajutrisna atau Surateleng. Namanya Prabu Sitija atau Boma Narakasura."
"Terima kasih atas ilmunya, Panembahan. Semoga aku menjadi raja yang bijak," kata Dasamuka sambil menghaturkan sembah.
Setelah jauh, Marica mendekat. Ia meludah dan marah pada dirinya sendiri.
"Hina sekali aku harus menunduk pada seekor kera. Kalau bukan karena ajian itu, aku tak akan merendahkan diri!" ujarnya, dengan perasaan kesal.
"Siapkan air mandi dan bunga tujuh rupa. Aku ingin membersihkan diriku dari kotoran akibat bertemu binatang hutan!"
Meski dengan perasaan kecewa, Dasamuka mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia kembali ke Alengka dengan menguasai Aji Pancasonya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani