Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
WISANGGENI mengembalikan waktu dan suasana menjadi normal seperti semula. Keriuhan langsung terdengar, para Kurawa gempar melihat Wisanggeni yang berdiri tegak di tengah balairung.
Suasana menjadi riuh, namun Prabu Duryudana segera berdiri dan mengangkat tangannya, memerintahkan agar semua diam.
“Aku akan bertanya pada orang yang aku kehendaki,” ucap Duryudana lantang.
“Perhatikan baik-baik, siapa pun yang bicara tanpa ditanya, akan langsung dipecat dari jabatannya!”
Ia pun menoleh tajam ke arah seseorang yang selama ini menjadi penasihat paling setianya.
“Paman Sengkuni, apa yang kau sembunyikan dariku? Engkau adalah orang yang paling aku percaya hingga aku bisa menjadi raja Astina. Maka jujurlah! Mengapa kau selama ini membantuku, padahal kau adalah putra mahkota Plasajenar?”
Sengkuni tampak gugup. Bibirnya bergetar. Ia terkejut karena kata-kata meluncur begitu saja dari mulutnya, seolah bukan atas kehendaknya sendiri.
“Hahaha... akhirnya aku harus buka mulut di sini,” katanya dengan suara yang dipaksa tenang. Matanya bergerak gelisah, menatap kanan-kiri, dan enggan memandang wajah Duryudana secara langsung.
“Benar, aku seharusnya menjadi raja di Plasajenar. Aku menjadikanmu raja Astina karena aku ingin Kurawa, keponakanku sendiri, bertahta, agar lebih mudah aku kendalikan dan aku manfaatkan. Bagiku, Kurawa jauh lebih bisa dikontrol daripada Pandawa. Pandawa terlalu cerdas... terlalu idealis.”
Wajah Duryudana mulai menegang, tapi Sengkuni belum selesai.
“Dan kau tahu, Duryudana, berapa gaji seorang patih? Tidak sebanding dengan ambisi dan dendamku. Untuk menebus tahta yang seharusnya aku miliki, aku harus menyelundupkan uang dari Astina ke Plasajenar. Ya, aku korupsi. Aku gunakan kekuasaanmu untuk menguatkan kerajaanku sendiri!”
Kata-kata itu menggema di seluruh ruangan. Semua membisu. Wajah Duryudana memucat. Suatu pengkhianatan baru saja terbongkar. Pengkhianatan dari orang yang paling dia percayai.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani