Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“MENURUTKU, sangat benar, Uwak. Demi tahta Pandawa, demi tegaknya kebenaran, akan kulakukan apapun yang terjadi,” jawab Wisanggeni dengan nada yakin.
Namun Sri Kresna hanya menggeleng pelan.
“Kau tak tahu risiko yang akan datang di belakangnya, Wisanggeni. Ketahuilah, dengan membuat Duryudana terbelalak matanya, sadar sepenuhnya akan pengkhianatan orang-orang di sekelilingnya, maka Perang Baratayuda takkan pernah terjadi. Padahal, dunia justru membutuhkan perang itu untuk menjaga keseimbangan. Tanpa peperangan, keadilan tak akan pernah ditegakkan dengan tuntas.”
Wisanggeni masih mencoba membela dirinya. “Uwak Prabu, justru aku melakukan ini demi keadilan.”
“Keberpihakan macam apa yang kau sebut sebagai keadilan?” sahut Sri Kresna.
“Apakah kejujuran yang dipaksakan adalah bentuk keadilan? Tidak, anakku. Justru karena kau membuka semuanya sebelum waktunya, itu bisa menimbulkan kekacauan yang lebih besar. Mereka akan saling menghancurkan bahkan sebelum peperangan yang sesungguhnya dimulai. Padahal para dewa telah menetapkan takdir yang tidak seperti itu. Apakah kau hendak menentang kodrat langit?”
Wisanggeni terdiam. Tangannya gemetar. Ada gelombang ketakutan dan penyesalan yang menyelinap dalam hatinya.
Sri Kresna menepuk pundak keponakannya dengan lembut.
“Anakku Wisanggeni, aku tahu kau berniat baik, ingin membantu Pandawa. Tapi tidak semua yang terlihat baik itu benar. Kebaikan hanya akan memberi hasil jika ditempatkan pada waktu dan jalan yang tepat. Ingatlah, manusia akan sadar karena peringatan, bukan paksaan. Mereka akan belajar dari kesalahan, bukan dari kenyataan yang dipaksakan.”
Kepala Wisanggeni menunduk dalam. Kini hatinya diliputi rasa bersalah yang dalam.
“Kau tak perlu menjelaskan tentang niatmu, Wisanggeni,” lanjut Kresna. “Sebab temanmu tak akan menuntut penjelasan, dan musuhmu takkan percaya meski kau menjelaskannya.”
Sri Kresna menatap ke arah istana Astina, lalu mengangkat tangannya.
“Sekarang, aku akan mengembalikan suasana seperti semula. Tidak ada yang akan mengingat apapun dari apa yang telah kau lakukan hari ini. Semua yang mereka dengar, semua yang mereka akui... akan kuhapus dari ingatan mereka.”
Dengan satu sapuan cahaya, waktu pun diputar kembali. Wisanggeni dan Sri Kresna kembali ke Amarta.
Di Istana Astina, Duryudana pun terbangun dari lamunan panjang yang tak disadarinya, seolah tiada pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Ia tidak tahu bahwa pernah ada seorang pemuda bernama Wisanggeni yang menyingkap semua kedok pengkhianatan, dan mengguncang seluruh tiang kekuasaan Astina.
Semua kembali seperti semula—seolah tak pernah ada kejadian yang mengguncang.
Namun satu hal yang tetap tertinggal adalah pelajaran: bahwa kebenaran akan datang pada waktunya. Dan takdir akan berjalan sesuai kehendak langit.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani