Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
SETELAH Batara Kala meninggalkan kahyangan, Batara Narada mengajukan keberatan atas keputusan Batara Guru sebelumnya.
Jika semua manusia yang termasuk golongan Sukerta dan Sengkala dimangsa oleh Batara Kala, maka jumlah penduduk Pulau Jawa akan menyusut drastis.
Bahkan seluruh umat manusia bisa habis. Batara Guru pun menyadari kekeliruannya.
Ia lalu memanggil Batara Wisnu dan Batara Brahma untuk mendampingi Batara Narada meruwat manusia di Pulau Jawa yang tergolong Sukerta dan Sengkala.
Supaya mereka semua selamat dari ancaman Batara Kala.
Batara Wisnu menjelma menjadi seorang dalang bernama Ki Dalang Kandabuwana dan turun ke Pulau Jawa.
Saat Batara Kala bertemu dengan Ki Dalang Kandabuwana, ia tidak menyadari bahwa orang di hadapannya adalah titisan dewa.
Ketika lengah dan mulutnya ternganga, Dalang Kandabuwana membaca tulisan rajah di tubuh Batara Kala.
Di dahi disebut Sastra Carakabalik, di rongga mulut disebut Sastra ing Telak, di dada disebut Sastra Bedati, dan di punggung disebut Sastra Trusing Gigir.
Batara Kala pun terkejut karena hanya orang pilihan yang mampu membaca rajah tersebut. Ia teringat bahwa orang yang dapat membacanya harus dihormati sebagai wakil Batara Guru.
Ia lalu duduk bersimpuh di hadapan Dalang Kandabuwana.
Dalang Kandabuwana menjelaskan bahwa dirinya diutus untuk meruwat manusia yang tergolong Sukerta dan Sengkala.
Mereka yang sudah diruwat tak boleh lagi dimangsa. Batara Kala menyatakan tunduk dan patuh pada aturan tersebut.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa izin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani