Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“AYAH dan adikmu adalah kesatria sejati,” ucap Prabu Puntadewa perlahan, suaranya berat namun penuh rasa hormat.
“Meski ayahmu telah lanjut usia, semangatnya dalam medan laga tak kalah dari prajurit muda. Ia berdiri tegap, tanpa gentar. Sedang adikmu, Bambang Rawan, meski usianya masih belia, keberaniannya melebihi banyak kesatria yang lebih tua. Mereka berdua adalah contoh semangat juang yang menggetarkan seluruh barisan kami, Pandawa.”
Mendengar itu, wajah Niken Pindri merekah, tersenyum haru.
“Benarkah, Sinuwun? Aku sangat bahagia bila mereka berjuang dengan penuh semangat dan keberanian. Tapi… di mana mereka sekarang? Aku… dan ibuku… sangat merindukan mereka.”
Prabu Puntadewa memalingkan wajahnya. Mata yang biasanya tajam penuh wibawa kini berkaca-kaca, menahan gejolak dalam hatinya.
Ia tahu, yang akan dikatakannya bisa memecahkan hati seorang gadis yang berharap. jawaban ini akan merenggut cahaya kecil yang masih menyala dalam jiwa Niken Pindri.
“Pindri… ayah dan adikmu kini telah berada di tempat yang sangat nyaman,” ucap Puntadewa lirih, suaranya nyaris seperti bisikan doa.
Niken Pindri mengernyit, mencoba memahami. “Kenapa Sinuwun menangis? Tangisan itu… apakah tangisan bahagia, atau ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata itu?”
Raden Bima melangkah mendekat. Ia tak sanggup membiarkan Puntadewa menanggung beban sendiri.
“Kakang Puntadewa… katakanlah yang sesungguhnya. Jangan biarkan ia terombang-ambing dalam harapan yang kosong. Kata-kata yang tak utuh hanya akan memperdalam luka.”
Puntadewa menarik napas panjang, lalu menatap dalam-dalam mata Niken Pindri yang penuh harap.
“Pindri… dengarkan aku. Ayah dan adikmu… mereka telah berpulang. Mereka telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta dengan tenang, sebagai pejuang yang mulia. Mereka gugur di medan laga. Aku mohon… maafkan aku… salahkan aku… karena tak mampu melindungi mereka…”
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar jiwa Niken Pindri. Tubuhnya lemas, lututnya melemas tak sanggup menopang berat kesedihan.
Ia jatuh terduduk, memeluk dirinya sendiri dalam gemetar. Air matanya mengalir deras.
“Ayah… Adik… Kenapa kalian tega meninggalkan kami? Tahukah kalian, kami setiap hari menanti, setiap malam berdoa agar kalian kembali dalam keadaan selamat? Mengapa… mengapa harus begini akhirnya?”
Ia terisak, menggenggam tanah di bawahnya. “Bagaimana aku akan pulang, Gusti? Bagaimana aku akan menyampaikan ini pada ibu? Bagaimana aku harus mengatakan bahwa penantian panjangnya telah berujung duka?”
Angin sore berembus pelan, menyapu lembut wajah Niken Pindri yang masih terisak. Di kejauhan, senja mulai merayap turun, seolah turut berkabung atas kehilangan seorang anak dan seorang ibu—yang kini harus belajar merelakan dua jiwa yang paling dicintainya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani