Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Jaka Wudug Dirawat Sang Bunda Seorang Diri, Ternyata Ibunya Bukan Tokoh Wayang Sembarangan

Ki Damar • Minggu, 27 April 2025 | 03:07 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Jaka Wudug
Ilustrasi tokoh wayang Jaka Wudug

Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

SUATU hari di istana Medang Kamulan, terjadilah cinta segitiga. Prabu Palindriya ternyata diam-diam menyukai Batari Basuwati, adik dari istrinya sendiri, Batari Basundari.

Batari Basundari yang saat itu sedang hamil, terpaksa merelakan suaminya memperistri adiknya itu.

Prabu Palindriya sangat bergembira. Ia menikahi Batari Basuwati sebagai permaisuri kedua.

Baca Juga: Tokoh Wayang Ini Mengutuk Batari Basundari, Apa Alasannya?

Untuk menjaga nama baik istana dan menyamarkan status mereka sebagai bidadari, Prabu Palindriya mengganti nama mereka.

Batari Basundari menjadi Dewi Sinta, dan Batari Basuwati menjadi Dewi Landep.

Namun, rasa cemburu Dewi Sinta kian membara.

Baca Juga: Seorang Gadis di Magetan Melahirkan di Kamar Mandi, Bayinya Meninggal, Polisi Lakukan Penyelidikan

Apalagi setelah mengetahui, meskipun memiliki dua permaisuri bidadari, Prabu Palindriya masih merasa kurang dan bahkan mengambil dua puluh enam perempuan lain sebagai selir untuk memuaskan nafsunya.

Tak tahan lagi dengan perilaku suaminya, Dewi Sinta akhirnya memilih kabur meninggalkan Kerajaan Medang Kamulan meskipun tengah hamil tua.

Ia menetap di Desa Cangkring untuk menenangkan hati.

Baca Juga: Cari Mobil Sedan dengan Harga Terjangkau? Timor Bisa Jadi Pilihan Tepat, Ini Sederet Fiturnya

Tak lama kemudian, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Jaka Wudug.

Dalam kesendirian dan kesedihannya, Dewi Sinta merasa bahwa kutukan Dewi Soma telah menjadi nyata.

Ia kini harus menjalani hidup sebagai rakyat jelata dan merawat putranya seorang diri. Karena kemarahannya terhadap Prabu Palindriya, ia memutuskan untuk kembali menggunakan nama pemberian orang tuanya, yakni Dewi Basundari.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#batari #Tokoh #wayang