Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerita Silat Palagan Lawu Wilis: Langkah Amarah yang Memunculkan Bara Merah, Amuk Agni Dahana ke Utusan Madiun (37)

Deni Kurniawan • Kamis, 1 Mei 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi cerita silat Palagan Lawu Wilis.
Ilustrasi cerita silat Palagan Lawu Wilis.

Cerita silat original Deni Kurniawan*

AMUK utusan Ponorogo tak terbendung. Pesilat dari daerah elemen api itu sangat murka. Tanah di arena Palagan Lawu Wilis mulai retak-retak. Udara menjadi lebih kering. Daun-daun mengerut. Beberapa tenda rakyat terkelebat aneh seolah ikut gelisah.

Agni Dahana menjejak tanah keras-keras. Tubuhnya memancarkan aura jingga serupa kobaran api. ''Itu jurus apa lagi? Tidak ada dalam cerita silat yang kudengar sebelum-belumnya,'' ujar seroang rakyat.

Tangan kiri Agni menciptakan lengkung api, menyerupai cambuk panjang bercahaya, meliuk-liuk liar di udara.

Wisa Prabawa bergeser ke kiri, lalu ke kanan untuk menghindari serangan Agni. Gerakan api menjadi kacau.

Ujung cambuk tak bisa ditebak, seolah punya nyawa sendiri.

Mulut Agni terkatup rapat. Matanya merah. Napasnya membakar.

Setiap langkahnya memunculkan percikan bara dari tanah.

Teriakan Agni menggema bersama hantaman pukulan berlapis api.

Wisa menangkis dengan tangan kiri, namun terpental.

Tubuhnya terguling dua kali sebelum kembali berdiri. Wajahnya penuh kepanikan.

"Jangan kau kedepankan amarahmu, tapi dengarkan!" seru Wisa dengan tubuh terhuyung-huyung.

“Itu bukan jurus elemen api yang sejati,” lanjutnya.

Agni tak menggubris. Dia lantas memutar tubuh dan mengirim tendangan samping. Semburat gelombang panas keluar.

"Elemen api sejati berbentuk pusaran bola api! Bukan lidah-lidah cambuk liar seperti milikmu itu!" terang Wisa.

“Diam kau Wisa! Inilah darahku, darah Ponorogo” Agni meraung. Aura merah menyebar makin besar.

Ngeri dan takjub terpancar dari rakyat yang menyaksikan palagan. Wisa kini hanya berdiri. Bahunya turun naik.

Dia tak mencoba menangkis. Hanya memandang Agni, dan berujar pelan, "Kau bukan darah api. Tapi sesuatu yang lebih kuno,''.

Langit di atas arena menggelap. Di bawahnya, tanah Palagan Lawu Wilis menjadi saksi cerita silat tentang api yang tak lagi mengenal batas dan kini telah membara sepenuhnya. (*)

*Penulis bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Cerita Silat #Wisa Prabawa #Agni Dahana #madiun #Palagan Lawu Wilis #ponorogo