Cerita silat original Deni Kurniawan*
DENGAN tubuh bergetar Agni Dahana berdiri. Wisa Prabawa mundur selangkah demi selangkah dengan mata terbelalak dan napas memburu.
Berpasang-pasang mata rakyat yang melihat ikut bergidik menyaksikan satu adegan di Palagan Lawu Wilis itu. Momen yang akan menjadi cerita silat yang terus dikenang.
Sudah jelas, Wisa sedang terdesak. Kuda-kudanya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Gerakan tubuh utusan Kabupaten Madiun itu semakin berat, keringat bercucuran.
Setiap langkah Agni memunculkan semakin banyak bara api. Melesat-lesat bak menari-nari di udara.
''Cukup! Berhenti, Agni! Kau tak tahu apa yang sedang terjadi pada dirimu,'' pinta Wisa.
Sia-sia perkataan Wisa. Semua sudah terlanjur.
Kekuatan api kadung membakar Agni.
Matanya yang merah menyala semakin penuh dengan kekuatan yang tidak terkendali.
“Inilah darahku! Api ini bukan hanya milikku, ini adalah takdir!” teriak Agni dengan suara penuh amarah.
Dengan satu dorongan tangan, Agni melepaskan cambuk api yang lebih besar.
Kali ini lebih liar dan meliuk dengan kecepatan yang tak terduga.
Api itu bergerak lebih cepat daripada yang pernah dilihat Wisa.
Wisa terhuyung dan lemah. Semua rakyat yang menyaksikan Palagan Lawu Wilis terheran-heran.
Dengan sisa-sisa kekuatan dia berusaha menghindar.
''Wisa, bangkitlah! Rakyat Madiun percaya cerita silat atas namamu belum barakhir sampai di sini,'' ujar seorang rakyat.
Tapi, tak ada ruang lagi untuknya. Alhasil, Wisa terguling ke tanah.
Itu seiring tubuhnya yang terhempas. Bekas luka bakar kini menganga di kulitnya. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan