Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
BEBERAPA bulan setelah Sinta dan Rama kembali hidup bahagia, bertakhta dan memerintah di Ayodya, malapetaka yang tak disangka-sangka menimpa negeri itu.
Suatu hari, ketika para menteri dan pemimpin negara tengah bersidang dengan suasana yang sangat "gayeng", tiba-tiba terdengar jerit dan tangis seorang wanita.
Ternyata suara tangis itu berasal dari seorang wanita yang tengah bertengkar hebat dengan suaminya.
Mereka adalah Ki Angga dan Nyi Angga. Nyi Angga datang untuk memohon keadilan dari Sri Rama.
Awalnya, para pengawal kerajaan menolak dan hendak mengusir mereka dari istana.
Namun, Sri Rama memerintahkan agar pasangan itu diizinkan masuk ke dalam.
Setelah berada di hadapan Sri Rama, Sang Prabu pun bertanya.
“Apa maksudmu datang dengan tangis dan jerit yang begitu keras hingga mengganggu jalannya persidangan?” ucap Rama dengan nada suara yang meninggi.
Wajar saja, karena sidang yang berlangsung serius itu terganggu oleh jeritan tersebut.
“Mohon ampun, Yang Mulia Sri Baginda,” sembah Nyi Angga. “Hamba datang memohon keadilan.
Suami hamba telah memperlakukan hamba secara semena-mena karena menaruh curiga.”
“Kenapa engkau dicurigai?” potong Sri Rama.
“Hamba hanya pergi menjenguk orang tua hamba yang sedang sakit. Karena rindu dan tenaga hamba sangat dibutuhkan di sana, hamba terpaksa bermalam di rumah orang tua. Perjalanan yang jauh membuat hamba tak sempat memberi tahu suami.”
Rama Wijaya menatap tajam ke arah Nyi Angga, menyimak dengan serius.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani