Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
SINTA mulai menyadari bahwa sejak dahulu rakyat Ayodya memang selalu demikian.
Mereka tidak ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dahulu mereka juga menangisi kepergian Rama, namun tak berani bersuara tentang kebenaran.
Kini, hal serupa menimpanya. Mereka tak percaya bahwa ia masih suci.
“Suatu hari, rakyat ini akan sadar dan kecewa terhadap pemimpin mereka. Banyak pemuka negeri ini memilih diam atas kebenaran, karena tahu keburukan satu sama lain. Selama itu tidak mengancam kejayaan mereka, mereka akan tetap diam,” tegas Resi Walmiki.
Enam bulan kemudian, Sinta melahirkan dua anak laki-laki kembar bernama Lawa dan Kusya.
Sejak kecil hingga dewasa, mereka diasuh Resi Walmiki layaknya anak brahmana.
Mereka dididik menjadi pemuda gagah, bertanggung jawab, dan berakhlak luhur. Lawa dan Kusya bahkan menjadi pemimpin muda di padepokan Gangga.
Demikianlah kehidupan Sinta bersama Lawa dan Kusya di tengah rakyat jelata.
Di waktu luang, Resi Walmiki mengajarkan ilmu lahir dan batin, serta kisah Sri Rama sejak lahir hingga mengusir permaisurinya dari Ayodya.
Tak heran bila hati Lawa dan Kusya tumbuh membenci Sri Rama, yang mereka anggap semena-mena.
Mereka tidak tahu, bahwa Sinta adalah ibu kandung mereka, dan Sri Rama yang sangat mereka benci adalah ayah mereka sendiri.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Dilarang menduplikasi artikel ini tanpa seizin Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani