Cerita silat original Deni Kurniawan*
JUAL beli serangan terjadi di tarung utama Palagan Lawu Wilis. Berupa-rupa cerita sikat tertuliskan.
Anila Nurani dari Magetan beberapa kali mengeluarkan jurus silat. Agni Dahana hanya sesekali. Utusan Ponorogo itu tampak bertahan.
Dada Anila kembang kempis. Napasnya terengah-engah.
Baik serangan dengan elemen angin maupun pukulan dan tendangan biasa, semua bisa diatasi Agni.
Anila kelihatan seperti kehabisan akal. Pun, tenaga.
Tiba-tiba, sosok Eyang Jatupati muncul di kerumunan rakyat di palagan.
Sekilas Anila menatap salah satu dari sembilan roh luluhur elemen angin di Magetan itu.
Sosok misterius yang mengasuh dan mendidiknya sejak kecil.
Eyang Jatupati mengangguk perlahan. Anila paham gestur tersebut.
Dia ingat wejangan yang diberikan gurunya itu
Perempuan cantik berjuluk Pesilat Lereng Lawu itu lantas ambil sikap.
Anila kini berdiri tegak, kepalanya mendongak ke atas.
Dua lengannya lurus membentang ke samping.
Anila Nurani kini berputar. Ritme putaran semakin lama kian kencang.
Tak lama setelah itu, pusaran lesus menyelimuti tubuhnya.
''Dia menyatu dengan angin. Momen ini akan menjadi cerita silat yang tak terlupakan,'' ujar seorang rakyat.
Di sudut lain arena tarung utama Palagan Lawu Wilis, Agni Dahana mengamati betul apa yang sedang dilihatnya.
''Melawan Agni, aku harus menari dengan angin seperti apa yang diutarakan Eyang Jatupati,'' gumam Anila. (*)
*Penulis bekerja di Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan