Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
AWATAMA melihat barisan Pringgondani bergerak ke Bulupitu.
Ia segera berlari memberi tahu pasukan Kurawa agar bersiap diri.
“Duh, Anak Prabu, kenapa menyerang sendirian? Bukankah Paduka memiliki kami semua untuk membantu?” ujar Prabakesa penuh harap agar Gatutkaca tidak bertindak sendirian.
“Bukan begitu, Paman. Aku sangat sedih dan marah karena adikku Abimanyu gugur di medan Perang Baratayudha. Pikiranku kacau. Aku ingin membalas dendam malam ini juga!” tegas Gatutkaca.
“Apapun keputusan Paduka, kami, bala Pringgondani, siap membantu!” seru Prabakesa bersemangat.
“Waduh, bagaimana ini? Jika tidak segera dihentikan, Gatutkaca akan membunuh kita semua. Tidak sampai pagi, Kurawa bisa habis karena kita tidak bisa bertarung dalam gelap,” kata Sengkuni panik.
Narpati Awangga, Prabu Basukarna, mencoba menenangkan.
“Tenanglah, Paman Patih. Gatutkaca memang sakti dan cerdas. Tapi dalam malam seperti ini, bangsa yaksa dan raksasa lebih unggul. Ketahuilah, Pringgondani bukan satu-satunya yang memiliki wadyabala yaksa. Negara Awangga pun didominasi bangsa yaksa. Maka, aku sendiri yang akan menghadapi Gatutkaca,” kata Basukarna.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani