Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Dursasana Gugur Part 1, Turun ke Medan Perang Baratayudha? Pilihannya Hanya Mukti atau Mati

Ki Damar • Jumat, 16 Mei 2025 | 00:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Dursasana Gugur
Ilustrasi lakon wayang Dursasana Gugur

Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

KEMATIAN bagi seseorang yang turun ke medan perang -termasuk Baratayudha- hanya memiliki dua pilihan: mukti atau mati.

Setelah gugurnya Abimanyu, putra Arjuna, yang membuat Arjuna kehilangan pegangan hidup, kini Bima Sena mengalami hal serupa.

Ia tidak menyalahkan siapa pun—tidak Prabu Kresna, tidak Karna, bahkan tidak dirinya sendiri.

Kerelaannya merelakan sang anak berangkat menjadi senapati malam itu adalah karena niat suci.

Namun, kenyataan yang terjadi tetap mengguncang hatinya yang teguh. Ketiga putranya telah mendahuluinya menuju surga.

“Kresna, apapun yang terjadi, aku harus menuntut ganti rugi atas kematian putra dan menantuku, Abimanyu. Kau sendiri tahu, sampai sekarang anakku Utari masih belum berhenti menangisi kematian suaminya,” ucap Prabu Matsapati, eyang para Pandawa, dengan penuh kesedihan.

“Lalu, apa yang Kanjeng Eyang inginkan?” tanya Kresna.

“Abimanyu adalah putra mahkota. Maka, aku juga ingin putra mahkota Astina tewas secara mengenaskan,” jawab Prabu Matsapati dengan mata merah, penuh dendam.

“Putra mahkota? Maksud Kanjeng Eyang siapa?” Kresna belum memahami maksudnya.

“Karena putra Duryudana telah gugur bersama Abimanyu, maka aku yakin Dursasana kini telah dijadikan putra mahkota. Dia pasti disembunyikan oleh Kurawa karena dianggap aset penting Astina. Aku ingin Dursasana mati hari ini,” tegas Prabu Matsapati.

(*/naz)

Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#dursasana #Baratayudha #Lakon #wayang