Seri Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
PELAN-pelan, atas perintah Dewi Murdaningsih, si gajah merunduk, membiarkan tuannya turun dari punggungnya.
Dengan luwes, Dewi Murdaningsih menapaki tanah, lalu berjalan mendekat ke arah Arjuna yang berdiri di tengah hutan dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
Seolah kerbau tercocok hidungnya, Arjuna ikut berputar mengikuti gerak sang Dewi.
Tangan lembut Murdaningsih meraih kedua tangan Arjuna sambil memuji.
"Ternyata di tanah Jawa ada lelaki yang sempurna—tiada tandingan di negeriku. Satria rupawan, siapakah namamu, Raden?"
“Tadinya aku berpikir hanya rupamu yang cantik, membuat sukmaku terpasung, mataku enggan berkedip. Tapi begitu engkau bicara, sapaanmu mengalun bagai kidung cinta. Aku Arjuna, penengah Pandawa,” jawab Arjuna.
Murdaningsih menimpali, “Oh, inikah Arjuna yang menginspirasi banyak puisi cinta? Lelaki dengan sorot mata yang menundukkan wanita? Konon, kerikilpun rela kau injak agar bisa menyentuh jejakmu.”
“Bahagianya hatiku. Tidak sia-sia aku datang jauh-jauh dari Turilaya. Hatiku tertawan di tanah ini, aku tak ingin pulang,” ujar Murdaningsih, melupakan perintah gurunya.
“Pujianmu tinggi, sang Dewi, membuatku terbang ke awan,” ujar Arjuna. “Tapi, siapakah engkau sebenarnya?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani