Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
KISAH sayembara Dewi Drupadi yang dikenal sebagai ajang adu kesaktian ternyata menyimpan maksud tersembunyi dari sang paman, Gandamana.
Bukan sekadar mencari jodoh untuk keponakannya, Gandamana ternyata berharap menemukan para Pandawa yang diyakini tewas dalam tragedi Bale Sigala-gala.
Sebagai mantan patih Astina sekaligus murid Pandudewanata, Gandamana masih menyimpan keyakinan bahwa kelima putra Pandu belum benar-benar mati.
Dengan menyelenggarakan sayembara di negeri Pancala, ia berharap kabar ini akan menyebar dan menarik perhatian siapa pun yang masih hidup dari keluarga Pandu.
Kurupati dan Baladewa Tumbang di Tangan Gandamana
Sayembara itu ternyata juga menarik perhatian Kurupati (nama muda Duryudana) yang berniat meminang Dewi Drupadi.
Namun, kesaktian Gandamana tak tertandingi. Duryudana tumbang dalam duel yang memalukan.
Baladewa pun naik pitam, mencoba menantang Gandamana dengan maksud menikahkan Drupadi dengan adiknya, Narayana muda (Kresna).
Tapi Baladewa juga tak berkutik menghadapi kekuatan sang paman.
Pandawa Menyamar Jadi Brahmana
Lima orang asing yang menyamar sebagai brahmana pun ikut menyaksikan jalannya sayembara.
Namun, penyamaran mereka terbongkar lantaran keluguan Puntadewa saat menjawab pertanyaan.
Gandamana akhirnya menyadari bahwa mereka adalah Pandawa yang selama ini dicari.
Meski Puntadewa adalah kakak tertua dan berhak atas Drupadi, ia justru menyerahkan kesempatan kepada adiknya, Bima, untuk mengikuti sayembara.
Peristiwa ini menjadi titik balik yang dramatis.
Gandamana Gugur, Pandawa Menang
Pertarungan antara Bima dan Gandamana berlangsung dahsyat.
Namun, di tengah pertempuran, kenangan akan Pandudewanata dan masa lalu sebagai patih Astina menghantui Gandamana.
Ia akhirnya gugur di tangan Bima, murid dari sahabat lamanya sendiri.
Kematian Gandamana bukan semata karena kekalahan fisik, tapi karena tekadnya telah tercapai.
Ia berhasil membuktikan bahwa Pandawa masih hidup, meski harus membayar dengan nyawanya sendiri.
Pernikahan Puntadewa dengan Drupadi pun berlangsung, tapi menyisakan duka mendalam atas kematian paman yang pernah membimbing ayah mereka.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani