Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kakak Arjuna Bunuh Pamannya Sendiri, Apa Alasan Tokoh Wayang Pandawa Ini Nekat Berbuat Keji di Perang Suci Baratayudha?

Ki Damar • Rabu, 28 Mei 2025 | 21:15 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa

Seri Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

NAMA Yudhistira alias Puntadewa selama ini identik dengan kebajikan dan kejujuran. Bergelar Ajatasatru, artinya satria tanpa musuh, ia dikenal tak pernah membunuh dalam hidupnya.

Namun segalanya berubah saat Baratayudha mencapai klimaks.

Dalam perang akbar di Kurusetra, Prabu Salya (raja Mandaraka dan paman Yudhistira sendiri) memihak Kurawa.

Tak hanya itu, Salya maju sebagai senopati utama dan mengerahkan ajian sakti Candabirawa yang memunculkan ribuan raksasa kerdil dari tubuhnya.

Ajian Candabirawa: Senjata Mematikan Prabu Salya

Candabirawa bukan ajian biasa. Setiap kali satu raksasa kerdil dibunuh, ia justru bangkit kembali dan bertambah jumlahnya.

Medan perang dipenuhi pasukan gaib yang membuat pasukan Pandawa kelabakan.

Para senopati seperti Bima dan Gatotkaca tak mampu mengatasinya.

Kresna pun mendapatkan wangsit: satu-satunya yang bisa mematahkan kekuatan Candabirawa adalah Yudhistira, satria berdarah putih yang suci lahir batin.

Tapi justru Yudhistira yang menolak. Ia masih dihantui rasa bersalah atas kematian Durna, gurunya, karena tipu muslihatnya.

Yudistira Menangis Sebelum Mengakhiri Nyawa Salya

Yudhistira sempat bersumpah tak akan membunuh lagi. Tapi Kresna mendesak. Jika tidak, Pandawa akan kalah.

Dengan hati berat, Yudhistira akhirnya menerima takdir.

Ia membawa satu anak panah sakti dan melafalkan doa dari jimat Kalimasada untuk mengakhiri hidup Salya secara sempurna.

Panah dilepaskan. Prabu Salya tumbang. Raksasa Candabirawa lenyap seketika. Tapi kemenangan itu bukan tanpa luka.

Tangannya bergetar. Bukan karena lelah, tapi karena jiwanya runtuh. Tangan yang selama ini selalu menengadah dalam doa dan pujian kepada Sang Pencipta, kini berlumuran darah pamannya sendiri.

Baratayudha mengubah segalanya. Sosok Ajatasatru yang dulu suci kini harus mengotori tangan demi dharma dan nasib dunia. Sebuah pengorbanan besar yang tak semua orang tahu.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#yudhistira #Baratayudha #Tokoh #arjuna #wayang